Rabu, 01 April 2009

Pemodelan Pengolahan Informasi

Untuk bisa memahami cara kerja interaksi manusia dengan komputer, kita perlu membuat model sistem pengolahan informasi pada manusia dan komputer. Pada dasaranya, baik manusia maupun komputer memiliki piranti input, sistem pengolah dan output. Informasi yang diterima dan tanggapannya dikirimkan melalui beberapa media input dan output, yaitu:
  • Visual channel
  • Auditory channel
  • Haptic channel
  • Movement
Sistem pengolahan manusia terdiri dari dua bagian yaitu pengolahan sadar (conscious processing) dan otomatis. Pengolahan sadar terjadi ketika rangsangan datang kemudian dibawa ke bagian intellektual dan memerlukan beberapa waktu untuk menghasilkan tanggapan. Pengolahan otomatis terjadi secara reflek dan memerlukan waktu tanggapan yang pendek. Gambar 2.4 menunjukkan model sistem pengolahan pada manusia.


Model persepsi, kognisi dan memori manusi dapat dilihat pada gambar 2.5.
Pengolahan perseptual dapat dipandang sebagai kumpulan register penyangga temporer. Informasi yang diterima manusia akan disimpan pada bagian ini sebelum dilewatkan ke pengolahan persepsi sebelum ditanggapi. Register sensori manusia mempunyai persistensi (kemenetapan) sebesar 0,2 detik sementara pendengaran sekitar 2 detik. Efek dari persistensi banyak dimanfaatkan dalam TV untuk membuat sederetan citra diskrit muncul sebagai citra bergerak kontinu.

Register sensori dapat dibedakan menjadi beberapa macam yaitu :
  • iconic memory untuk stimuli visual
  • echoic memory untuk stimuli aural
  • haptic memory untuk sentuhan
Memory-memory tersebut selalu di overwrite tiap kali ada informasi baru yang diterima. Informasi yang diterima oleh sensory memory akan dikirim dan disimpan ke memory yang permanen (Long Term Memory / LTM) atau di overwrite dan hilang.

Kanal antara register sensori dan memori jangka pendek mempunyai kapasitas rendah yang menyatakan keterbatasan sesorang dalam memperhatikan semua masukan secara serentak.

Memori jangka pendek (Short-term memory) dan jangka penjang (Long-term
memory ) memiliki aktivitas kognitif yang berbeda.
  1. Short-term memory (STM) / working memory
    Miller (1956) membuktikan bahwa STM manusia memiliki kapasitas untuk menyimpan 7+/-2 ‘chunks’ informasi. Sebagai contoh, cobalah untuk mengingat urutan nomor berikut: 0811738463 Berapa banyak nomor yang bisa anda ingat? Jika anda bisa mengingat lima sampai sembilan digit, maka kapasitas STM anda termasuk normal. Sekarang cobalah untuk mengingat urutan nomor berikut: 0811 738 463 Apakah anda bisa mengingatnya dengan lebih mudah? Disini, nomor-nomor tersebut di kelompokkan (chunked). Artinya, mengelompokkan informasi bisa meningkatkan kapasitas STM.
  2. Long-term memory (LTM)
    LTM berfungsi sebagai tempat menyimpan informasi secara permanen, misalnya pengalaman kita, aturan dan kebiasaan kita, dan segala sesuatu yang kita ketahui. Sampai sekarang belum diketahui berapa kapasitas maksimum LTM manusia. LTM bisa dibagi menjadi dua jenis, yaitu episodic memory dan semantic memory. Episodic memory dipakai untuk meyimpan kejadian dan pengalaman yang kita dapatkan secara serial. Semantic memory dipakai untuk menyimpan fakta, konsep dan skill yang telah kita dapatkan secara terstruktur. Informasi pada semantic memory didapatkan dari episodic memory sehingga manusia bisa mempelajari fakta-fakta atau konsep-konsep baru dari kejadian yang dialaminya.
Informasi yang diterima manusia di proses dan diaplikasikan untuk:
  • Pengambilan kesimpulan / Reasoning
    Reasoning adalah proses dimana manusia menggunakan pengetahuannya untuk menarik kesimpulan atau mendapatkan pengetahuan baru tentang sesuatu. Reasoning terdiri dari tiga jenis: deductive, inductive dan abductive. Deductive reasoning dipakai untuk mendapatkan kesimpulan logika dari premise (fakta) yang diketahui. misalnya:
    jika hari ini hujan, saya tidak pergi kuliah
    hari ini hujan. Jadi hari ini saya tida pergi kuliah
    Deductive reasoning tidak memperdulikan kebenaran dari premise, jadi misalnya:
    Jika hari ini hujan maka tanahnya kering
    Hari ini hujan. Jadi tanahnya kering
    Contoh tersebut diatas tetap disebut deductive reasoning, meskipun kita tahu bahwa itu tidak masuk akal.
    Inductive reasoning meng-generalisasi-kan kasus-kasus yang kita lihat untuk mendapatkan informasi yang belum kita ketahui. Misalkan, jika semua gajah yang kita lihat memiliki belalai, kita infer (ambil kesimpulan) bahwa semua gajah memiliki belalai. Tentu saja inference ini tidak bisa dipercaya dan tidak bisa dibuktikan kebenarannya. Meskipun demikian, induction sangat berguna bagi kita dalam mempelajari lingkungan kita. Kita tidak mungkin bisa melihat semua gajah yang ada atau yang akan ada dalam dunia ini, tetapi kita memiliki pengetahuan bahwa semua gajah memiliki belalai.
    Tipe ketiga dari reasoning adalah abduction. Abduction dipakai untuk mendapatkan sebab dari suatu kejadian. Misalnya, kita tahu bahwa Joni selalu ngebut jika dia mabuk. Jika suatu ketika kita lihat Joni sedang ngebut, maka kita ambil kesimpulan bahwa Joni sedang mabuk. Tentu saja hal ini tidak bisa dipercaya karena mungkin saja ada sebab lain, misalnya dia sedang terburu-buru karena terlambat ujian.
  • Memecahkan masalah / Problem-solving
    Jika reasoning adalah bagaimana cara mendapatkan informasi baru dari informasi
    yang sudah diketahui, problem-solving adalah proses untuk mencari solusi dari suatu
    task yang belum pernah dikenal sebelumnya, dengan menggunakan pengetahuan
    yang kita miliki. Terdapat beberapa teori tentang bagaimana manusia memecahkan
    permasalahannya (Dix, pp. 38-41):
    - Gestalt theory
    - Problem space theory
    - Analogy in problem solving
  • Akuisisi keahlian / Skill acquisition
    Masalah-masalah yang kita pecahkan biasanya tidak seluruhnya merupakan masalah
    baru. Sebaliknya, secara tidak sadar, kemampuan (skill) kita pada suatu domain
    bertambah. Bagaimana cara kita meningkatkan skill yang kita miliki? Salah satu
    model dari skill acquisition adalah dari Anderson, yang dikenal dengan nama ACT
    model (Dix, pp. 42-43). Pada ACT, skill dibagi menjadi tiga level dasar:
    1. The learner uses general-purpose rules which interpret facts about a problem. This is slow and demanding on memory access
    2. The learner develops rules specific to the task.
    3. The rules are tuned to speed up performance.
(aguz Haryono 06211034)

Model Pengolahan Informasi pada Manusia

  • Faktor utama yang dominan dalam interaksi manusia dan komputer adalah faktor kognisi.
  • Pada awal tahun 1960 dan 1970-an paradigma utama dalam psikologi kognisi adalah mencari karakter manusia sebagai pengolah informasi.
  • Segala sesuatu yang diindera (penglihatan, pendengaran, sentuhan, bau dan rasa) dianggap sebagai informasi yang akan diolah oleh otak.
  • Ide dasarnya adalah bahwa informasi masuk dan keluar dari pikiran manusia melalui sederet langkah proses yang urut.

Langkah Pengolahan Informasi
  1. Informasi dari lingkungan disandikan ke bentuk representasi internal.
  2. Representasi internal dari rangsangan dibandingkan dengan informasi yang sudah tersimpan di otak.
  3. Membuat keputusan respon apa yang akan dipilih.
  4. Mengeksekusi respon yang telah dipilih dan melakukan tindakan yang diperlukan